REKONSTRUKSI KEWENANGAN PENYADAPAN OLEH KEJAKSAAN AGUNG MELALUI MOU DALAM PERSPEKTIF HAM DAN KEPASTIAN HUKUM
Keywords:
Law, The Attorney General’s Office, Interception, Legal certainty, MoU, Human rights.Abstract
The Attorney General’s Office of The Republic Indonesia has formally established cooperation with four telecommunications service providers through a Memorandum of Understanding, the implementation of which includes the interception of mobile phones. The legal basis invoked by the Attorney General’s Office is Article 30B of law Number 11 to 2021. This regulatory gap poses a significant risk of abuse of power and legal uncertainty. The results of this research indicate that the legality of interception conducted by the Attorney General’s Office must be examined. This necessity arises from the absence of a specific legal framework governing interception and the violation of a fundamental human right, the right to privacy as guaranteed under the 1945 Constitution of Indonesia and the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR). Furthermore, the MoU signed between The Attorney General’s Office of The Republic Indonesia and the telecommunications providers violates the principle of public information openness as stipulated in Law Number 14 of 2008. The MoU is horizontal in nature and requires statutory level regulation governing the scope of criminal limitations and oversight mechanism so the reconstruction of interception regulations can ensure legal certainty and human rights.
Downloads
References
BUKU
Ashidiqqie, J. (2005). Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi. Jakarta: Mahkamah Konstitusi Press.
Atmosudirjo, P. (1995). Hukum Administrasi Negara. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Arief, B. N. (2001). Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Arief, B. N. (2002). Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Hadjon, P. M. (2007). Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia, Sebuah Studi Tentang Prinsip-Prinsipnya, Penanganannya oleh Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Umum dan Pembentukan Peradilan Administrasi. Jakarta: Peradaban.
Hamzah, A. (2008). Asas-Asas Hukum Pidana. Jakarta: Rineka Cipta.
Heveman, R. H. (2002). The Legality of Adat Criminal Law in Modern Indonesia. Jakarta: Tata Nusa.
Kadarisman, M. (2013). Manajemen Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rawajali.
Manthovani, R. (2015). Penyadapan vs Privasi. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.
Remmelink, J. (2003). Hukum Pidana: Komentas Atas Pasal-Pasal Terpenting dari Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Belanda dan Padanannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Slamet, K. G. (2006). Harmonisasi Hukum dalam perspektif Perundang-Undangan. Surabaya: JP Books.
Suhariyanto, B. (2012). Tindak Pidana Teknologi Informasi. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Sulfinadia, H. (2020). Meningkatkan Kesadaran Hukum Masyarakat. Yogyakarta: CV. Budi Utama.
Sunarso, S. (2022). Viktimologi Dalam Sistem Peradilan Pidana. Jakarta: Sinar Grafika.
Wasserman, G. (2007). The Basics of American Politics. Pearson: Longman.
Wibowo, A. (2012). Hukum Pidana Terorisme. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Yahya, Y. (2006). Pengantar Manajemen. Yogyakarta: Graha Ilmu.
JURNAL
Aswad, H. Z.. (2023). Analisis Kriminologi Tindak Pidana Perjudian Online Yang Dilakukan Oleh Anak Dalam Perspektif Uu No.11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Bandung Conference Series: Law Studies, 3(2), 948–953. https://doi.org/10.29313/bcsls.v3i2.7271
Eddyono, S. W., & Napitupulu, E. A. T. (2013). Komentar Atas Pengaturan Penyadapan Dalam Rancangan KUHAP. Institue for Criminal Justice Reform.
Efendi, S., Akbar, K., & Khalidi, M. (2024). Exploring Criminal Punishments: A Comparative Review of Islamic and Indonesian Law. FUQAHA Journal of Islamic Law, 1(1), 13–22. https://doi.org/10.63687/fqh.v1i1.2
Fikri, M., & Rusdiana, S. (2023). Ruang Lingkup Perlindungan Data Pribadi: Kajian Hukum Positif Indonesia. Ganesha Law Review. 5(1), 42-46. https://doi.org/10.38035/jihhp.v6i1.6072
Thontowi, J. (2015). Penyadapan Dalam Hukum Internasional dan Implikasinya Terhadap Hubungan Diplomatik Indonesia dengan Australia. Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM 22, no. 2 : 183– 202, https://doi.org/10.20885/iustum.vol22.iss2.art1.
Kusnadi S. A. (2021). Perlindungan Hukum Data Pribadi sebaga Hak Privasi. Al Wasath Jurnal Ilmu Hukum, Vol 1. No.1, 127. https://doi.org/10.47776/alwasath.v2i1.127
Pratama, G. N. (2016). Kekuatan Hukum Memorandum Of Understanding (MoU) dalam hukum perjanjian di Indonesia. Jurnal Hukum Bisnis, 2(2), 247. https://doi.org/10.25123/vej.2274
Setiawan, H. B., & Najicha, F. U. (2022). Perlindungan Data Pribadi Warga Negara Indonesia terkaiT Dengan Kebocoran Data. Jurnal Kewarganegaraan, Vol 6. No.1, 977.
Sofyan, I. (2024). Model Pengaturan Kewenangan Penyadapan Oleh Kejaksaan Dalam Penangan Tindak Pidana Korupsi. Philosophia Law Review, 4 (1): 43-70.
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011 tentang Badan Intelijen Negara.
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi.
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan.
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang informasi dan Transaksi Elektronik.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Dhia Fadlia, Andrik Aprilyanto Setiawan (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.












